My Photos, Videos and Writings

Traveler’s Journal – Singapore

Posted by on Jan 12, 2013 in Traveler's Journal | 11 Comments
Traveler’s Journal – Singapore

Plan A Failed Go To Plan B

Halo,  ini adalah catatan perjalanan seorang traveler pemula yang untuk pertama kalinya ke luar negeri sendirian dengan gaya backpacker. Negeri tujuan pun yang mudah dan dekat saja, yaitu Singapore. Perjalanan ini awalnya bertujuan untuk mengikuti workshop Multimedia for Photographers yang diselenggarakan oleh Invisible Photographer Asia (IPA), namun ternyata acara yang seharusnya berlangsung pada tanggal 13 dan 19 Januari 2013 ditunda entah sampai kapan. Menurut Kevin WY Lee, pendiri IPA, kemungkinan jadwal baru workshop adalah Maret. Sialnya, Saya terlanjur membeli tiket penerbangan karena mengejar harga promo yang lebih murah kalau dibeli jauh-jauh hari. Walhasil kini saya punya tiket penerbangan pergi-pulang ke Singapore dan paspor yang juga baru buat, sedangkan workshop-nya ditunda.

Selain itu, sebenarnya saya sedang merasa perlu untuk melakukan perjalanan jauh ke tempat yang sama sekali asing. Konon travel dapat membantu kita lebih mengenali diri dan menemukan perspektif baru tentang  kehidupan, setidaknya bisa membandingkan kondisi negara sendiri dengan negara lain. Perkembangan mengejutkan ini membuat Saya menghadapi dilema, tetap pergi sesuai tiket atau membatalkan penerbangan dan menunggu sampai nanti saat workshop itu benar-benar diselenggarakan. Pada satu sisi, saya benar-benar ingin pergi jauh-jauh sendirian, namun demikian saya tidak ingin perjalanan ini hanya main-main dan liburan saja. Kabur ke Singapore sambil mengikuti workshop tadinya merupakan jawaban sempurna untuk menghadapi galau pribadi dan profesional sekaligus.

Setelah bimbang untuk beberapa waktu akhirnya saya memutuskan untuk tetap pergi sesuai jadwal. Pertimbangannya, waktu dan kondisi keuangan saat ini terasa paling memungkinkan untuk pergi jauh cari pengalaman sekaligus refleksi diri. Belum tentu di masa mendatang akan ada lagi kesempatan seperti ini. Workshop-nya? Terus terang saya ingin sekali bisa mengikuti tapi karena jadwal Maret itu pun belum pasti, ya tidak jelas juga kedepannya bisa pergi atau tidak. Jadi keputusannya tetap pergi, sambil berdoa semoga pada saat workshop itu akhirnya diselenggarakan akan ada rejeki lagi yang bisa digunakan untuk membiayai.

Walaupun begitu, Saya tetap tidak ingin melakukan perjalanan yang sia-sia. Saya pun tidak ingin  mati gaya saat berkelana di Singapore, maka Saya menugaskan diri sendiri untuk melakukan liputan dan membuat proyek foto selama berada di sana. Bukan foto-foto selfie tentu saja melainkan fotografi perjalanan (travel photography). Lumayan untuk menambah portofolio karya foto. Setelah melakukan riset kecil-kecilan, Saya memutuskan area liputan akan dibatasi pada daerah yang di sebut Little India dan Chinatown, sisanya ya mungkin beberapa museum. Kenapa pilih kedua daerah itu sebagai fokus utama? Silahkan di search saja dengan kata kunci nama kedua daerah tadi, gunakan fasilitas google image.  Saya sih menemukan kedua daerah itu memiliki kekayaan visual yang unik juga nuansa budaya etnik yang kuat. Buat Saya ini menarik, mengingat selama ini Singapore identik dengan wisata belanja di mal – mal modern seputar Orchard Road, Marina Bay, Pulau Sentosa dan Universal Studio.

Selain itu, Saya membuat catatan perjalanan ini dengan tujuan membantu orang-orang lain seperti saya. Orang-orang yang sama sekali belum pernah bepergian dengan gaya backpacker ke luar negeri khususnya ke Singapore. Saya sih mengalami fase ketika sangat butuh informasi tentang berbagai hal, mulai dari membuat paspor untuk pertama kali, berburu penerbangan dan tempat penginapan yang murah dan aman. Untungnya, Saya punya beberapa teman yang pernah ke Singapore, sehingga ada tempat bertanya. Mudah-mudahan catatan perjalan ini dapat membantu memberikan informasi dan inspirasi untuk merencanakan kunjungan pertama Anda ke Singapore. Silahkan menyimak catatan-catatan yang akan terus diperbaharui selama perjalanan ini.

Disclaimer:
Informasi dalam posting ini mungkin tidak cocok bagi Anda backpacker berpengalaman dan buat Anda yang sering mengunjungi Singapore.

Persiapan

Paspor

Begitu memantapkan diri untuk pergi ke Singapore mengikuti workshop, hal pertama yang Saya lakukan adalah mencari tahu cara membuat paspor. Yup, Saya belum pernah ke luar negeri, karena itu sampai beberapa minggu yang lalu Saya tidak memiliki paspor. Sementara teman dan kenalan sering bercerita dengan diawali kata-kata, “waktu aku di Spanyol ……” atau “waktu aku di New York ….”, paling Saya hanya bisa merespon dengan komentar, “Waktu aku di Palu ya ….. ” atau “Waktu aku di Bali ….” yang kedua ini kurang seru karena hampir semua orang yang Saya kenal pernah ke Bali.

Akhirnya Saya harus membuat paspor juga dan ini cukup membuat resah, karena saat itu sudah minggu kedua Desember 2012, sedangkan  jadwal workshopnya 13 Januari 2013. Saya khawatir tidak cukup waktu untuk proses pembuatan paspor. Setelah bertanya-tanya akhirnya Saya mengetahui ada 3 cara yang bisa ditempuh untuk membuat paspor, yaitu:

  1. Pergi ke kantor imigrasi terdekat ambil formulir, isi, serahkan dokumen-dokumen yang menjadi syarat dan dapatkan jadwal pemotretan untuk identitas diri dan wawancara. Konon paling lama prosesnya antara seminggu sampai dua minggu
  2. Masuk ke http://imigrasi.go.id cari link ke pendaftaran paspor online, scan dan upload semua dokumen yang menjadi syarat, pilih jadwal pemotretan dan wawancara, lalu tunggu paspor jadi seminggu atau dua minggu.
  3. Pakai jasa biro perjalanan, bawa dokumen yang menjadi syarat lalu biarkan mereka yang mengurus segalanya, kita paling tinggal datang ke imigrasi untuk foto dan wawancara.

Biaya normal sesuai ketentuan untuk membuat paspor  48 halaman saat blog ini ditulis adalah sekitar Rp 200.000,- . Tadinya saya ingin melakukan opsi kedua tapi ternyata di laman web itu pilihan jadwal pemotretan yang paling cepat adalah tanggal 4 Januari 2013, buat saya saat itu ini riskan karena saya butuh kepastian paspor untuk mulai memesan tiket penerbangan dan penginapan. Jadi akhirnya saya pilih opsi 3 dan harus membayar dua kali lipat lebih. Ya namanya juga belum berpengalaman. Untuk Anda yang akan membuat paspor, saya sarankan mulai diurus jauh-jauh hari dan pilih lah opsi 2, karena dengan demikian kita hanya harus antri sekali yaitu saat pemotretan dan wawancara saja.

Apa pun cara yang Anda pilih, pastikan dokumen-dokumen yang dibutuhkan sudah siap sebelum mengisi formulir online atau datang ke kantor imigrasi. Dokumen-dokumen tersebut adalah:

  1. Surat pengantar dari tempat kerja. Naamun jika anda wirausahawan … eh saya tidak tahu syarat ini bisa diganti apa
  2. Kartu Keluarga
  3. Kartu Tanda Penduduk
  4. Akte Kelahiran atau Ijazah terakhir

Jika Anda daftar secara online, scan dulu semua dokumen itu dalam format jpg dengan ukuran file maksimum 300 Kb. Kalau datang ke imigrasi atau lewat jasa biro perjalanan bawalah fotokopi dan aslinya.

Alhamdulillah, walau Saya harus mengeluarkan uang dua kali lebih mahal tapi prosesnya cukup cepat bahkan sangat cepat. Saya mulai menghubungi biro perjalanan Tanggal 17 Desember lalu ditawari jadwal pemotretan dan wawancara Tanggal 20 namun karena Saya ada keperluan hari itu, maka jadinya tanggal 21. Meskipun terpotong 4 hari libur akhir pekan dan natal, paspor sudah bisa Saya ambil tanggal 28 Desember, cepat bukan? Yup, tapi kemudian teman-teman Saya bilang  kalau mengurus segalanya sendiri pun ya kira-kira jangka waktunya sama. Ya sudahlah, pengalaman.

Visa bagaimana? Tenang kalau Anda belum tahu, maka kini ketahuilah, Singapore dan Indonesia adalah sesama negara anggota ASEAN maka kita tidak perlu visa untuk berkunjung ke sana. Selama Anda punya paspor yang masih berlaku minimal 6 bulan ke depan dari saat kunjungan, Anda bisa pergi pulang tiap hari tanpa perlu pusing soal visa. Untuk diketahui saja, beberapa negara di luar ASEAN juga menerapkan bebas visa, tergantung perjanjian negara yang bersangkutan dengan pemerintah Indonesia.

 

CATATAN PERJALANAN

Sat, Jan 12 22.28

[wpgmappity id=”1″]

Akhirnya mendarat di Bandara Changi, Singapore. Pesawat Airasia yang Saya tumpangi mendarat sekitar  pukul 21.00 waktu setempat atau pukul 20.00 WIB, namun Saya tidak bisa langsung posting karena sempat tersesat di bandara yang lebih mirip mall ini. Belum lagi Saya mesti meraba-raba cara terkoneksi ke internet dengan wifi gratisan yang tersedia di sini. Entah mengapa telpon genggam Saya tidak berhasil terkoneksi walaupun mendeteksi adanya wifi, sementara saat mencoba dengan laptop langsung dapat terkoneksi dengan mudah. Ada banyak jaringan wifi yang terdeteksi di Changi, namun yang bebas password dan dapat Saya gunakan adalah jaringan “#WiFi@Changi“.

SingaporeAdv-2

Bandara Changi Terminal 1. Lebih mirip mal mewah daripada terminal pesawat terbang. Pemandangan di Terminal 2 pun kurang lebih sama.

Pesawat take off dari Bandara Soekarno-Hatta pkl 18.45 WIB dan landing di Terminal 1 Bandara Changi sekitar pukul 20.00 WIB, namun ada perbedaan waktu satu jam dengan Jakarta, maka itu artinya  pkl 21.00 waktu Singapore. Berdasarkan referensi yang saya baca, perjalanan dari bandara menuju kota dapat ditempuh menggunakan MRT (Mass Rapid Transportation) alias kereta. Sarana transportasi ini tersedia di terminal 2 dan 3 tapi tidak di terminal 1, maka Saya pun mencari cara untuk pindah ke terminal 2. Perpindahan antar terminal dapat dilakukan dengan menaiki semacam kereta yang disebut Skyline. Petunjuk arah memang jelas, namun luasnya bandara membuat Saya sempat curiga tersesat saat mencari stasiun Skyline di terminal 1, belum lagi isi Bandara Changi lebih mirip mal-mal mewah di Jakarta.

Lelah berjalan? Gunakan sarana ini untuk menghemat tenaga, tersedia dari pintu kedatangan dari pesawat sampai ke tengah terminal yang menyerupai mal itu

Lelah berjalan? Gunakan sarana ini untuk menghemat tenaga, tersedia dari pintu kedatangan pesawat sampai ke tengah terminal yang menyerupai mal itu

skyline di changi

Skyline, kereta kecil sebagai transportasi antar terminal di Bandara Changi, Singapore

Jika Anda seperti Saya yang baru pertama kali mengunjungi Changi siap-siap saja bingung, tapi jangan khawatir pos-pos informasi cukup banyak tersedia dan para petugas di sana  sigap memberikan informasi yang kita butuhkan. Malam ini Saya akan mencoba bermalam di Changi.

kursi tunggu di changi

Kursi-kursi tempat pengunjung beristirahat di Bandara Changi. Saya bermaksud menunggu pagi di sini. Tempat ini laku dengan cepat, saya jadi ragu untuk beranjak sejenak mencari makan malam, takut ketika kembali sudah tidak kebagian tempat

Bandara Changi sangat nyaman untuk pengunjung yang terpaksa atau sengaja berlama-lama tinggal di tempat ini. Selain kursi-kursi seperti yang tampak di atas, terdapat pula pusat hiburan yang menyediakan layar super lebar untuk menikmati siaran olah raga. Tidak jauh dari situ tersedia sekitar 5 pasang kursi-kursi nyaman mengelilingi 5 layar televisi. Saya tidak tahu apakah siaran yang diputar dapat kita atur sendiri, karena Saya tidak mendapatkan kesempatan untuk mencobanya, sarana yang satu ini selalu penuh terisi. Di lantai 3 ada Bloomberg Center, tempat ini selain menayangkan siaran berita dari Bloomberg, juga menyediakan komputer-komputer yang dapat kita gunakan untuk berselancar dan mengirim email. Bagi yang membawa laptop sendiri, di lantai 2 terdapat area khusus berupa meja-meja dan terminal listrik. Oiya, harus diperhatikan konektor daya listrik di Singapore tidak sama dengan di Indonesia namun sama dengan konektor gaya Inggris yang memiliki cabang 3. Anda akan membutuhkan travel connector adapter jika charger telpon genggam anda konektornya bercabang dua. Saran, belilah travel connector itu di Indonesia karena di Changi ini harganya mahal sekali. Saya belum keluar bandara jadi belum bisa membandingkan dengan harga di luar bandara.

Sun, Jan 13 02.14

Pagi sudah tiba. Malam tadi saya memutuskan tidur di lantai dua karena tempat lain sudah penuh ditempati orang. Menurut peta bandara, seharusnya ada area yang menyediakan sofa-sofa empuk mirip tempat tidur, namun setelah berkeliling tadi malam Saya tidak berhasil menemukannya. Walaupun tidur saya tidak nyenyak, namun saya berkesempatan mengisi penuh batre laptop dan telpon genggam saya di sini. Sholat subuh di bandara juga mudah, tersedia ruang nyaman yang di sebut praying room.

Nah sekarang Saya lapar. Setelah berputar-putar mencari tempat makanan halal untuk mengisi perut yang kosong semenjak  siang kemarin, akhirnya Saya memutuskan untuk menjajal Kaya Toast. Menurut penulis buku “Keliling Singapur”, Claudia Kaunang, makanan itu tergolong kategori must try jika kita berkunjung ke sini.  Intinya Kaya Toast itu adalah roti bakar dengan bumbu “Kaya”. Biasanya, kata Claudia, ini menu makan pagi orang Singapore. Roti ini pendamping idealnya konon teh susu panas dan tempat yang direkomendasikan untuk mencoba salah satunya adalah Killiney Kopitiam. Oiya, sebelum lupa … Saya sangat menyarankan Anda mencari tahu berbagai macam informasi mengenai budaya, lokasi penting, makanan dan hal-hal penting lain terkait tempat asing yang akan dikunjungi. Informasi-informasi itu akan mempermudah hidup Anda di tempat asing. Sebelum berangkat, Saya mengumpulkan informasi tentang Singapore dari berbagai sumber, seperti: teman, buku, youtube, blog dll.

Lanjut ya kisahnya …. Pada mulanya Saya mencoba mencari Nasi Lemak yang juga direkomendasikan Claudia Kaunang,  saat mulai putus asa menemukan makanan itu, eh mata Saya menangkap booth Killiney Kopitiam. Disitu ada paket-paket menu, Saya pilih paket B seharga Sin $ 4.80 terdiri dari dua tangkup Kaya Toast, dua telur yang dimasak setengah matang dalam mangkuk dan es teh susu. Rasanya memang lezat. Roti bakarnya pas dan empuk, rasa “kaya” nya (entah apa pun itu, saya pikir sih sarikaya) berpadu dengan rotinya. Telur setengah matangnya enak, saya tidak mengerti bagaimana sang koki memasaknya tapi hasilnya tidak ada kesan amis sedikitpun. Es teh susu nya sih tidak terlalu luar biasa, enak sih tapi di Indonesia juga banyak seperti itu.

Killiney Kopitiam, tempat menjual Kaya Toast yang katanya harus dicoba kalau berkunjung ke Singapore

Killiney Kopitiam, tempat menjual Kaya Toast yang katanya harus dicoba kalau berkunjung ke Singapore

Paket B Kaya Toast di Killiney Kopitiam terdiri dari, dua tangkup toast, semangkuk telur setengah matang dan segelas es teh susu. Lumayan mengganjal perut yang sudah kelaparan akut

Paket B Kaya Toast di Killiney Kopitiam terdiri dari, dua tangkup toast, semangkuk telur setengah matang dan segelas es teh susu. Lumayan mengganjal perut yang sudah kelaparan akut

Sebenarnya saya penasaran dengan “Kaya” ini, bentuknya sih semacam selai, tidak persis sama rasanya dengan selai sarikaya yang pernah saya makan di Indonesia. Awalnya saya mencoba menanyakan pada sang koki, apa sih sebenarnya “Kaya” itu, tapi akhirnya saya memutuskan tidak menggali lebih jauh, karena sumpah ….. Singlish si koki sangat sulit dimengerti. Pelanggan berikutnya yang datang semakin menegaskan bahwa mencoba berkomunikasi dengan sang koki itu percuma, kecuali kalau kita menguasai bahasa tionghoa, ya setidaknya Saya mendapat kesan bahasa yang mereka gunakan itu bahasa tionghoa. Oke jadi sepertinya apa itu “Kaya” akan Saya tanyakan pada mbah google saja nanti.

Fri, Jan 18 13.33

Jumatan di Singapore

Hari ini Saya memutuskan untuk mengistirahatkan kaki yang lecet dan melepuh dikit, hasil salah strategi memilih sepatu di hari pertama. Cerita dari tanggal 13 Sampai 17 akan saya sampaikan lain kali. Saat ini, Saya ingin berbagi tentang Shalat Jumat di Masjid di area Little India dekat Hostel InCrowd tempat tinggal setelah pindah dari Prince of Wales.

Di hostel ini ternyata tinggal pula seorang pria Jerman yang sudah 22 tahun tinggal di Indonesia. Dia masuk Islam di Aceh dan sekarang tinggal di Depok. Demi alasan keimigrasian, beliau ini sesekali harus kembali ke Jerman untuk kerja selama 3 bulan lalu balik lagi ke Indonesia. Sialnya, saat menuliskan posting ini, Saya tidak ingat nama beliau. Sambil menunggu masuk waktu shalat, pria Jerman itu mentraktir Saya kopi di salah satu kedai sebelah mesjid. Segelas kopi disini biasanya seharga 1 dollar singapore.  Agak aneh mendengar orang jerman ini berbicara bahasa Indonesia, ngobrol dengan Saya dan orang Singapore yang fasih berbahasa melayu dan dia (si Jerman) mengeluhkan dunia barat yang tampaknya memusuhi Islam.

Waktu Jumat disini sekitar pukul 13.30 atau 12.30 WIB. Sebelum masuk waktu Jumat ada pidato yang menurut kawan Jerman tadi adalah bahasa tamil, entah isinya apa. Khutbah Jumatnya sendiri disampaikan dengan bahasa arab yang berirama seperti doa. Setelah shalat berakhir ternyata mesjid ini membagikan pisang besar-besar kepada peserta Jumatan. Tadinya ingin juga ikutan antri tapi karena barisan sudah memanjang,  niat tadi saya batalkan. Padahal untuk turis berbudget minim seperti saya, lumayan tuh untuk berhemat ganjal perut. Oiya pada saat bubar tadi masih ada pidato lanjutan entah dengan bahasa apa, bisa jadi cuma pengumuman-pengumuan biasa sih

Mesjid di Little India. Khutbah Jumat di sampaikan dalam Bahasa Arab dan sesekali ada pengajian yang sepertinya menggunakan Bahasa India

Mesjid di Little India. Khutbah Jumat di sampaikan dalam Bahasa Arab dan sesekali ada pengajian yang sepertinya menggunakan Bahasa India

11 Comments

  1. anti+agung
    12 January, 2013

    best of luck mas ovi 🙂

    Reply
    • octavadi
      13 January, 2013

      Thank you ^_^

      Reply
  2. 0909
    13 January, 2013

    Be safe there, semoga di bandara tidak diusir satpam pas tidur, karena kalau di dalam biasanya harus bisa menunjukkan boarding pass. Take care and have fun 🙂

    Reply
    • octavadi
      13 January, 2013

      thx. i hope it is you

      Reply
  3. Fay
    14 January, 2013

    Wihiii….congratz buat ketetapan niat dan semangatnya untuk menjelajah tempat baru; walau dengan berbagai aral melintang. Be safe and have fun yaaa……

    Reply
    • octavadi
      15 January, 2013

      Thank you. Sini nyusul he3x

      Reply
  4. Fay
    15 January, 2013

    Tenang, mudah2an bisa nyusul (bulan Mei ) hahahaha….. 🙂 Carikan hostel yang wokeh yaaaa

    Reply
    • octavadi
      16 January, 2013

      Ni tempat yg sekarang wokeh loh. Kurangnya cuma sinyal net di kamarnya lemah sangat, kuatnya di ruang bersama. Januari yg katanya musim sepi, ni hostel cepet banget penuh

      Reply
  5. marigold
    31 August, 2013

    Kabur dari kegalauan yg membuahkan hasil sempurna..gudlak kk..kutunggu cerita singapur sesi 2&cerita2 yg lainnya 🙂

    Reply
    • octavadi
      31 August, 2013

      Makasih komennya… doakan ada waktu dan niat untuk melengkapi cerita, termasuk nambah cerita jalan-jalan di klaten dan semarang ya. He3x

      Reply
  6. Muhammad Roghibin
    12 May, 2014

    Informatif sekali., maksih telah berbagi,.

    Reply

Leave a Reply

%d bloggers like this: